
Dibacakan oleh Febrian - Seno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan.Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas antara jurnalisme dan sastra, menciptakan bentuk narasi yang tajam, puitis, sekaligus mengguncang. Karyanya “Saksi Mata” bukan hanya karya sastra melainkan arsip keberanian, merekam realitas yang tak diberi ruang untuk diucapkan.Ia dikenal dengan pernyataan legendarisnya: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Sebuah credo yang tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan dengan konsistensi intelektual dan keberanian moral.Gaya bertuturnya yang eksperimental, sinis, dan penuh lapisan menjadikan Seno bukan hanya penulis, tetapi juga arsitek wacana membentuk cara kita membaca realitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ia berdiri di antara fakta dan fiksi, menjadikan keduanya saling menegaskan.Sebagai jurnalis, akademisi, dan intelektual publik, Seno Gumira Ajidarma telah menempatkan dirinya sebagai pilar penting dalam lanskap sastra Indonesia bukan hanya karena karya-karyanya, tetapi karena keberanian untuk tetap bersuara ketika banyak memilih diam.
Apr 28
22 min

Dibacakan oleh FebrianSeno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan.Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas antara jurnalisme dan sastra, menciptakan bentuk narasi yang tajam, puitis, sekaligus mengguncang. Karyanya “Saksi Mata” bukan hanya karya sastra melainkan arsip keberanian, merekam realitas yang tak diberi ruang untuk diucapkan.Ia dikenal dengan pernyataan legendarisnya: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Sebuah credo yang tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan dengan konsistensi intelektual dan keberanian moral.Gaya bertuturnya yang eksperimental, sinis, dan penuh lapisan menjadikan Seno bukan hanya penulis, tetapi juga arsitek wacana membentuk cara kita membaca realitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ia berdiri di antara fakta dan fiksi, menjadikan keduanya saling menegaskan.Sebagai jurnalis, akademisi, dan intelektual publik, Seno Gumira Ajidarma telah menempatkan dirinya sebagai pilar penting dalam lanskap sastra Indonesia bukan hanya karena karya-karyanya, tetapi karena keberanian untuk tetap bersuara ketika banyak memilih diam.
Mar 29
22 min

Kuntowijoyo (1943–2005) adalah sastrawan, sejarawan, dan intelektual Indonesia yang dikenal karena karya-karyanya yang memadukan sastra, sejarah, dan pemikiran Islam.Ia lahir di Yogyakarta dan menempuh pendidikan hingga meraih gelar Ph.D di bidang sejarah dari University of Michigan. Dalam dunia sastra, Kuntowijoyo menulis cerpen, novel, puisi, dan esai—dengan gaya yang reflektif, filosofis, dan sering mengangkat realitas sosial serta spiritual masyarakat Indonesia.Beberapa karyanya yang terkenal antara lain “Khotbah di Atas Bukit”, “Pasar”, dan kumpulan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. Selain itu, ia juga dikenal lewat gagasan “Ilmu Sosial Profetik”, yang menggabungkan nilai-nilai keilmuan dengan etika dan spiritualitas.Kuntowijoyo dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan sastra dan pemikiran intelektual Indonesia modern.
Mar 25
18 min

Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia memiliki pengaruh besar dalam birokrasi dan kebijakan budaya nasional, termasuk saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film serta memimpin Dewan Kesenian Jakarta.Dalam dunia sastra, ia menciptakan terobosan melalui kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) yang berhasil memotret alienasi manusia di tengah megapolitan New York dengan gaya bahasa yang modern dan jernih. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi benturan budaya serta dinamika sosial, seperti dalam novel legendaris Para Priyayi yang mengupas tuntas struktur sosial masyarakat Jawa. Melalui esai-esainya dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Umar Kayam mengukuhkan dirinya sebagai pengamat budaya yang mampu menyampaikan pemikiran mendalam dengan sentuhan humor yang akrab bagi masyarakat luas.
Jan 19
21 min

Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia memiliki pengaruh besar dalam birokrasi dan kebijakan budaya nasional, termasuk saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film serta memimpin Dewan Kesenian Jakarta.Dalam dunia sastra, ia menciptakan terobosan melalui kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) yang berhasil memotret alienasi manusia di tengah megapolitan New York dengan gaya bahasa yang modern dan jernih. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi benturan budaya serta dinamika sosial, seperti dalam novel legendaris Para Priyayi yang mengupas tuntas struktur sosial masyarakat Jawa. Melalui esai-esainya dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Umar Kayam mengukuhkan dirinya sebagai pengamat budaya yang mampu menyampaikan pemikiran mendalam dengan sentuhan humor yang akrab bagi masyarakat luas.
Jan 19
16 min

Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia memiliki pengaruh besar dalam birokrasi dan kebijakan budaya nasional, termasuk saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film serta memimpin Dewan Kesenian Jakarta.Dalam dunia sastra, ia menciptakan terobosan melalui kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) yang berhasil memotret alienasi manusia di tengah megapolitan New York dengan gaya bahasa yang modern dan jernih. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi benturan budaya serta dinamika sosial, seperti dalam novel legendaris Para Priyayi yang mengupas tuntas struktur sosial masyarakat Jawa. Melalui esai-esainya dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, Umar Kayam mengukuhkan dirinya sebagai pengamat budaya yang mampu menyampaikan pemikiran mendalam dengan sentuhan humor yang akrab bagi masyarakat luas.
Jan 4
18 min

Sugiarti Siswadi, sepanjang tahun 1960an menjadi bagian dari anggota pimpiman pusat Lekra. Sugiarti pernah menjadi co-editor di majalah Api Kartini, dan menerbitkan sejumlah tulisannya di Harian Rakjat. Cerpen "Sorga di Bumi" merupakan karya yang ia terbitkan di Harian Rakjat pada masanya menjabat sebagai anggota Lekra. Sugiarti merupakan perempuan yang vokal dan lantang membicarakan betapa pentingnya pengembangan sastra anak. Ia meyakini bahwa pengembangan sastra anak mampu juga menjadi tonggak masa depan nilai-nilai kerakyatan di masyarakat.
Perjuangan Sugiarti dalam merancang gagasan kerakyatan pada sastra dan perbukuan berlangsung sampai dengan 1965. Pemerintah orde baru turut membatasi riwayat pergerakan Sugiarti sebagai anggota Lekra, sampai dengan melarang peredaran tulisannya pada masa itu.
Oct 5, 2023
13 min

Dibacakan oleh Febrian.
-
Bachtiar Siagian merupakan seorang sutradara film dan penulis poros kiri pada masanya. Ia bergabung dan menjadi salah satu figur Lekra pada tahun 1950. Karyanya yang berjudul Turang (1957) berhasil meraih empat penghargaan di Festival Film Indonesia tahun 1960.
Pada masa Soeharto mulai berkuasa, Siagian sedang berada di Jepang dalam proyek pembuatan dokumenter. Sekembalinya ke Indonesia, otoritas negara telah menjadikannya buron dan akan membayar mahal untuk penangkapannya.
Siagian ditangkap dan menjadi tahanan politik pada tahun 1966, ia dilarang menerbitkan karya di berbagai media, dan baru dibebaskan pada tahun 1977. Selama menjadi tapol, ia banyak menuliskan karya dan manuskrip film secara anonim.
Oct 2, 2023
8 min

Dibacakan oleh Febrian
-
Harsono Setiadi adalah seorang penulis puisi yang berasal dari Banyuwangi yang lebih dikenal dengan nama pena Nusananta. Kuliah Hukum Ekonomi Sosial Politik (HESP) di Pagelaran. Sesudah bergelar doktorandus, pada tahun 1965 ia menjadi kepala jawatan kebudayaan di Semarang, Jawa Tengah.
Seiring terjadinya Peristiwa G30S, ia ditangkap karena ketokohannya di dalam Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) cabang Semarang, kemudian dibuang ke Pulau Buru, dan meninggal tak lama sesudah ‘dikembalikan ke masyarakat’ pada tahun 1978 di Yogyakarta.
Oct 2, 2023
14 min

Dibacakan oleh Dea
-
Ratna Indraswari Ibrahim merupakan penulis perempuan Indonesia kelahiran 24 April 1949. Pada masa kanak-kanak, Ratna menderita radang tulang yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi. Hal inilah yang menyebabkan Ratna harus menjalani semua aktivitas kehidupannya dengan duduk di atas kursi roda semenjak berusia 10 tahun.
Walaupun kemampuan fisiknya sangat terbatas, namun ia mampu melahirkan karya sastra secara produktif. Kesetiaan untuk terus berkarya di dunia sastra ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen dan novel yang ia hasilkan sejak usia remaja hingga akhir hayatnya di usia 62 tahun.
Kemanusiaanlah yang menjadikan Ratna tetap menulis. Cerpen-cerpen Ratna senantiasa mengabarkan kepada kita bahwa ada penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Dan cerpen adalah media yang dipilihnya untuk mengungkapkan perasaannya dalam melukiskan sebuah kisah.
Dalam sebuah artikel di situs jurnalperempuan.org, Ratna mengutip ucapan mendiang Ibunya, “Perempuan itu jangan ngobrol saja, perempuan itu harus menulis, menulis apa saja. Karena dengan menulis, ia dapat menemukan dirinya.”
Apr 28, 2023
15 min
Load more
