KOVALIBRIUM
KOVALIBRIUM
Reni & Lily
ngobrol santai seputar Islam, Sains, dan Ilmu Sosial bersama Reni dan Lily . . . Instagram: @kovalibrium www.instagram.com/kovalibrium
[S2E17] Tujuan Hidup: Ibadah & Khalifah
Atas inisiasi seorang teman, akhirnya kami ngobrol tentang tujuan hidup. Banyak yang kami bicarakan, diantaranya: proses belajar tanpa henti untuk mencari dan mencapainya; bagaimana ketika turun-naik dalam proses tersebut. Lalu, apakah ketika tidak ada tujuan menjadikan hidup tanpa arti?
Jul 7, 2023
26 min
[S2E16] Atribut Manusia: Populasi & Potensi
Rekaman berdurasi sekitar 3 jam ini mengalami 3 atmosfer kota yang berbeda-beda. Menempuh jarak sekitar 1.943 km dengan waktu tempuh pesawat sekitar 4 jam, belum proses check in, boarding, dan perjalanan darat. Diedit di sela-sela waktu yang ada sebelum akhirnya laptop itu mati karena ketumpahan teh tarik menjelang tengah malam. 17 hari kemudian, tanpa diservis dengan alasan ingin menggantinya dengan yang baru saja, secara ajaib ia tiba-tiba menyala kembali meski beberapa tuts keyboard terasa berat karena lengket sisa gula. Singkatnya, inti paragraf di atas adalah: "maaf ya, Ndin, baru rilis episodenya, padahal kita udah rekaman dari jaman apa" 🙈 Tentu kami masih ingat awal mula kami tergoda buat ngobrol sama seseorang yang satu ini. Berawal dari sebuah buku yang berjudul "Realize Real Lies", kami merasa menemukan seseorang dengan cara pandang & pikir yang mirip. Pasti seru nih kalau ada kesempatan ngobrol. Dan memang benar, obrolan berjam-jam itu begitu menarik. Berkutat seputar yang dewasa ini banyak dibentur-benturkan: kuantitas vs kualitas; populasi manusia serta potensi positif & negatifnya. Hingga akhirnya kami menyadari bahwa perjalanan sama pentingnya dengan tujuan itu sendiri. Daftar referensi: Menjadi Manusia Menjadi Hamba--Fahruddin Faiz
Apr 14, 2023
26 min
[S2E15] Podcast: Cara Introver Berekspresi
Introver dan banyak bicara sepertinya adalah dua hal yang begitu jauh kaitannya. Namun, dengan kondisi-kondisi tertentu kita akan mendapati bahwa introver pun mampu menguraikan isi pikiran dan perasaannya bahkan hingga berjam-jam "ngobrol". Boleh dibilang hasil analisisnya juga sangat menarik karena introver terbiasa untuk mengobservasi segala sesuatu secara mendalam dan komprehensif. Hal-hal lainnya tentang introver dapat kita baca selengkapnya dalam sebuah buku berjudul "Quiet" yang ditulis oleh Susan Cain. Di era internet dan media sosial saat ini, konsep podcasting seperti sebuah angin segar bagi para introver, terutama yang memang suka berdiskusi. Berbagi makna-makna penting ke banyak orang dengan bantuan algoritma tanpa harus canggung berhadapan dengan lensa kamera. Mencapai tempat-tempat jauh, melintasi waktu, atau dalam frasa sederhana: "someone somewhere at any given moment". Daftar Referensi: https://id.wikipedia.org/wiki/Ekstraversi_dan_introversi
Jan 20, 2023
26 min
[S2E14] Cinta: Fitrah, Energi, Ego, dan Keberuntungan
Perfeksionisme hampir-hampir membuat rekaman ini tak jadi beredar di internet. Hasil rekaman yang punya kendala teknis, kualitas yang tidak sesuai ekspektasi, ditambah karena untuk pertama kalinya pula kami berdiskusi empat kepala di sini, membuat kewalahan menjatah durasi, esensi, dan proporsi bagi masing-masing untuk mengutarakan pendapatnya.  Namun, di hari Jum’at (16 Desember), seminggu pasca kami sepakat untuk membuat rekaman baru episode 14, tetiba algoritma YouTube merekomendasikan film yang berusia 10 tahun sudah: 5 cm. Lengkap dengan kutipan terkenal Zafran:  “sebuah cinta memang harus diungkapkan karena tidak pernah ada cinta yang disembunyikan, kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri.”  Seketika teringat rekaman yang teronggok sejak 13 November lalu, teringat fetus idenya muncul sejak 21 September, hari-hari kami mengundur waktu diskusi karena nyatanya tidak mudah mengumpulkan empat kepala yang jelas-jelas punya kesibukan masing-masing, atau editing yang mangkrak karena ketidakbecusan membagi waktu berkedok sedang dikejar deadline lain yang lebih penting. Maka ya, episode 14 tetap milik rekaman ini. Rekaman berisi suara-suara kami yang secara penuh subjektivitas membahas cinta. Memberanikan diri untuk membicarakan suatu abstraksi yang tidak mudah di-indra-i. Mencoba menarik level pengalaman ke level pemahaman. Dan seperti yang sudah kami duga, cinta tak mudah dimaknai tanpa alat bantu. Maka kami membangun jembatan berfondasi “Fitrah”, berdinding “Energi”, berjeruji “Ego”, serta berlapis “Keberuntungan”, demi membantu kami menyeberang ke ranah cinta. Berharap ia mau sedikit berbaik hati meng-konkrit-kan diri meski hanya lewat kata-kata. Tetapi ya, pada akhirnya bukankah memang tidak ada yang bisa lebih indah dalam mengungkapkan cinta selain kata-kata? Daftar Referensi: https://youtu.be/jJ6K_f7oSdg https://amaljariah.org/jiwa-jiwa-akan-menyatu-dengan-yang-sama-dengannya/ Al-A’raf ayat 172
Dec 23, 2022
37 min
[S2E13] Limited Brain from Cognitive Bias, then how?
Otak yang terbatas menjadikan kognisi kita juga terbatas. Dengan kata lain, kita memiliki bias ketika memahami sesuatu. Hingga akhirnya penilaian dan pengambilan keputusan di dalam hidup, juga didasarkan pada bias kognitif ini. TIdak sepenuhnya salah. Memiliki bias kognitif memang adalah sebuah keniscayaan bagi seorang manusia. Kita diciptakan dengan atribusi sebuah "prosesor" di dalam kepala yang walau memiliki kinerja luar biasa, tetap tidak terlepas dari limitasi tak hingga: terus berekspansi, sekaligus terus membenturi batasan diri. Ketika otak sudah mengalami kebuntuan karena ada lebih banyak yang tidak kita ketahui di dalam hidup, secara natural kita mencari kompensasi melalui organ yang satunya lagi, dialah hati: esensi kita sebagai seorang manusia, sekaligus faktor utama kerumitan diri.  Maka kembalilah kita pada konklusi-konklusi klasik. Melalui otak, kita akan berada pada puncak dominasi. Melalui hati, kita akan jadi manusiawi. Mengkombinasikan otak dan hati, kebijaksanaan akan dihidupi. Daftar Referensi: https://medium.com/the-legend/leadership-skill-kognitif-bias-9147ebe29748 https://www.verywellmind.com/what-is-a-cognitive-bias-2794963 https://youtu.be/1fIBoImJECU
Oct 1, 2022
47 min
[S2E12] Filosofi Zombi (feat. Bob Siregar)
Teman kami yang satu ini sudah dua kali ngobrol santai bareng kami, tapi rasa-rasanya berjam-jam diskusi itu tetap saja kurang. Dalam perspektif energi, kami biasa menyebutnya sebagai sebuah "feedback-loop". Menguras tenaga karena harus berpikir dan menata kata, tetapi sekaligus mendapat energi balik dari respon-respon yang inspiratif ketika berbagi pemikiran secara apa adanya. Pertukaran energi seolah meniadakan waktu. Filosofi Zombi menjadi semacam kail perdana yang pada akhirnya menyadarkan kami bahwa automasi kehidupan yang ditawarkan oleh modernitas bisa membuat manusia merasa menjadi "zombi": bergerak, tetapi tidak hidup. Dalam frasa sederhana dari William Wallace, "Every man dies, not every man really lives." Arkian, tantangan terbesarnya bukan hanya ada pada bagaimana agar tidak menjadi "zombi", tetapi mencoba memahami memangnya apa itu yang disebut sebagai "hidup"? Daftar referensi: https://youtu.be/iSwAbQD-gZU https://youtu.be/uJBFSC-Ncbg https://youtu.be/J0aX8QMkFAI https://id.wikipedia.org/wiki/Zombi
Sep 16, 2022
38 min
[S2E11] Heptapod: antara Bahasa & Waktu
“Ingatan itu aneh Tak seperti yang kukira Kita selalu mengikuti waktu dan tatanannya Kini aku tak memercayai adanya awal dan akhir” Narasi ini menjadi pembuka yang begitu mempesona dalam sebuah film berjudul “Arrival” (2016) yang diadaptasi dari cerita pendek berjudul “Story of Your Life” (1998) karya Ted Chiang. Film bergenre science fiction ini menjadi sebuah gambaran ideal dari kombinasi sempurna antara otak dan hati seorang manusia. Kualitas sinematografi, alur cerita, konflik utama, hingga anti-klimaks ditata dengan begitu indah. Segala sesuatunya diperhitungkan; segala sesuatunya terhubung; segala sesuatunya membuat kita berpikir ulang tentang makna bahasa, waktu, dan kaitannya dengan makhluk ekstraterestrial. Dalam nuansa determinisme, dua karakter utama menutup dialog di scene terakhir dengan sebuah pertanyaan: “Jika kau bisa melihat hidupmu dari awal hingga akhir akankah kau mengubahnya?”  “Aku akan lebih sering mengutarakan perasaanku.” Daftar Referensi: https://en.wikipedia.org/wiki/Arrival_(film) https://www.youtube.com/watch?v=tFMo3UJ4B4g
Aug 26, 2022
30 min
[S2E10] Asabiyyah: Pahami & Transformasi
Membuka pemikiran Ibnu Khaldun yang ditulis pada abad ke-14 selayak menempuh sebuah mesin waktu yang mengantarkan kita pada konsep Asabiyyah (solidaritas sosial): "sense of belonging" yang ada pada klan/keluarga/kerajaan/peradaban. Sayangnya, "sense of a shared purpose" ini bisa semakin melemah seiring berkembang dan bertambah tuanya sebuah peradaban. Kira-kira 400 tahun kemudian, Adam Ferguson mengamati fenomena yang mirip dan menamainya sebagai "social cost": ada harga—berupa perubahan yang belum tentu sesuai ekspektasi—yang harus dibayar oleh masyarakat demi sebuah kemajuan.  Tak lama setelah itu, Auguste Comte datang dengan pemikiran bahwa pemahaman tentang masyarakat bisa ditempuh melalui pendekatan saintifik sehingga transformasi ke arah yang lebih baik bisa dilakukan secara lebih objektif. Dalam sebuah kalimat sederhana ia menulis: "from science comes prediction; from prediction comes action". Menyadarkan kita bahwa sebuah metode berbasis observasi dan eksperimen yang digunakan untuk memahami alam semesta ternyata juga bisa digunakan dalam kehidupan manusia agar pengambilan keputusan—terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak—dapat dilakukan secara lebih rasional. Daftar Referensi: The Sociology Book: Big Ideas Simply Explained—DK (Foundations of Sociology: Ibn Khaldun, Adam Ferguson, & Auguste Comte)
Aug 12, 2022
27 min
[S2E9] The Wonder of the Night Sky
Thales mengajarkan tentang bagaimana mengambil data dari alam secara penuh dedikasi. Empedocles menjelaskan bagaimana cinta dan perselisihan mampu mewakili simbolisasi gaya sentripetal dan sentrifugal dalam kombinasi tanah, api, air, dan udara yang membentuk materi. Bisa dibilang semua ini bermula dari hal sederhana: orang-orang di Mesopotamia yang mengamati dan terinspirasi langit malam ("the wonder of the night sky").  Langit malam memang memiliki daya tariknya tersendiri. Seolah penuh misteri dalam kegelapannya sekaligus penuh daya magis dengan gemerlap bintangnya. Bahkan pendahulu kita pun, ketika melihat sebentang cahaya putih di langit malam lebih memilih untuk menamainya sebagai "Bimasakti" alih-alih men-translasi "Milky Way" secara literal. Sains yang tadinya terasa begitu jauh, mendadak seolah hanya sejengkal dari genggaman: pendahulu kita ternyata juga tak terlepas dari "the wonder of the night sky". Daftar referensi: The Science Book: Big Ideas Simply Explained--DK (The Beginning of Science 600 BCE - 1400 CE: Thales & Empedocles) https://www.validnews.id/catatan-valid/mengapa-milky-way-disebut-bimasakti
Jul 22, 2022
23 min
[S2E8] Man's Search for Meaning--Viktor Frankl
Di beberapa kesempatan dalam buku Man's Search for Meaning, Viktor Frankl mengutip kalimat terkenal milik Nietzsche: “Dia yang punya alasan MENGAPA harus hidup akan mampu menanggung segala bentuk BAGAIMANA caranya hidup". Selayak sebuah rapal mantra sakti yang mampu membuatnya memilih untuk tidak melarikan diri dari kengerian Auschwitz meski tersedia kesempatan untuk kabur.  Hingga akhirnya pengalaman atas penderitaan yang tak tertahankan di sana justru menjadi salah satu sumber lahirnya sebuah gagasan besar yang dimilikinya: "hidup, utamanya bukanlah sebuah upaya mencari kepuasan sebagaimana diyakini Freud, atau mengejar kekuasaan sebagaimana pemikiran Alfred Adler, tetapi sebuah pencarian makna. Tugas terbesar manusia adalah mencari makna dalam hidupnya". Daftar Referensi: Man’s Search for Meaning—Viktor Frankl; https://en.wikipedia.org/wiki/Viktor_Frankl; Al Baqarah ayat 286.
Jun 24, 2022
32 min
Load more