Kencan Dengan Tuhan
Kencan Dengan Tuhan
Danang Kurniawan
Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email [email protected]
Edisi Hari Minggu, 4 Oktober 2026 - Bersandar pada hikmat Tuhan
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 4 Oktober 2026Bacaan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5)Renungan: Di dalam sebuah buku yang berjudul "Mengatasi Persoalan Hidup", hadirnya masalah bukanlah satu-satunya penyebab depresi. Ada satu lagi aspek penting, yaitu persepsi atas masalah atau peristiwa itu. Kadang, persepsi itu lebih berpengaruh daripada peristiwanya sendiri. Seorang gadis tertarik pada seorang pemuda. Namun, tiap kali gadis itu mengirim chat, pemuda itu selalu lama membalas. la merasa pemuda itu kurang tertarik padanya. la berpikir itu pasti karena ia tidak cantik, tidak pintar, aneh, dsb. la lalu menjadi minder, tertekan, menutup diri dan takut menjalin hubungan dengan pria. Peristiwanya hanya chat yang lama dibalas, tapi persepsi gadis itulah yang membuatnya depresi. Dalam bahasa Inggris, orang yang sedih, tertekan, atau depresi disebut "feeling blue." Bukan karena tubuh mereka jadi berwarna biru, tapi mereka kini seolah melihat dunia dalam lensa biru (yang adalah simbol kehampaan dan kesendirian). Apa yang mereka lihat mungkin sama dengan orang lain, tapi persepsi mereka beda. Ini bukan meremehkan depresi atau menganggap mereka hanya membesar-besarkan masalah. Bukan juga berkata obat depresi cukup dengan berpikir positif. Depresi adalah hal serius yang sering kali muncul karena memang ada masalah yang serius. Namun, ketika kita mulai merasa tertekan, merasa hidup makin jauh dari kata indah, merasa diri begitu buruk dan orang lain begitu jahat, serta tak ada yang bisa diharapkan dalam hidup ini, coba periksa dulu persepsi kita. Yunus merasa dirinya orang baik yang diperlakukan tak adil, padahal ia sedang melawan Tuhan. Elia putus asa dan merasa sendiri, padahal ia baru mengalami kemenangan bersama Tuhan dan masih banyak orang mendukungnya. Bagaimana mereka bisa punya persepsi seperti itu? Ini terjadi saat mereka mulai mengandalkan pemikirannya sendiri. Karena itu, marilah kita senantiasa menyamakan persepsi kita dengan Tuhan. Lihat dari cara pandang-Nya. Cari tahu apa kehendak-Nya melalui segala peristiwa ini. Akuilah bahwa persepsi kita tidak selalu benar dan karenanya kita perlu belajar melihat dari persepsi lain. Dan karena tak ada persepsi yang lebih benar dari persepsi Tuhan, biarlah kita selalu mengecek dan membandingkan cara pandang kita dengan cara pandang-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, kuduskanlah pikiranku agar apa yang kupikirkan sesuai dengan pikiran-Mu sendiri, sehingga hatiku tetap tenang. Amin. (Dod).
Oct 3
4 min
Edisi Hari Sabtu, 3 Oktober 2026 - Sadar akan tugas sebagai terang dan garam dunia
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 3 Oktober 2026Bacaan: "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." (Matius 5:13)Renungan: Di film-film, sering kali digambarkan seseorang mengalami amnesia hingga ia tidak ingat akan masa lalunya bahkan identitasnya. Namun menurut ilmu medis, gambaran di film ini tidak selalu akurat. Orang bisa mengalami amnesia lalu tak ingat siapa dirinya atau kejadian yang menimpanya, tapi ingat keahlian yang ia kuasai. Seorang pengikut Yesus juga bisa mengalami amnesia rohani. Mereka bisa lupa identitas mereka, yaitu bahwa mereka adalah terang dan garam dunia. Ya, garam dan terang dunia adalah sebuah identitas, bukan tugas, Itulah sebabnya Yesus tidak berkata "kamu harus menjadi garam dunia/terang dunia" tapi la berkata "kamu adalah garam dunia (ay. 13) dan "kamu adalah terang dunia" (ay. 14). la tidak sedang memberikan perintah, tapi la mengingatkan siapa kita sebenarnya. Nah, kenapa seorang pengikut Yesus bisa lupa akan identitasnya? Penyebabnya bukan benturan atau kecelakaan, tapi sering kali karena mereka terlalu sibuk dengan diri/urusannya sendiri. Penyebab lain adalah karena mereka merasa sudah nyaman dengan kondisinya sekarang. Maka, mereka pun enggan menjalankan fungsinya. Garam baru akan berfungsi ketika ia ditaburkan di masakan yang hambar. Terang berfungsi ketika ia mendatangi kegelapan. Seorang pengikut Yesus pun baru akan bisa menerangi dan menggarami ketika mereka mau keluar dari kebiasaan dan kenyamanannya, untuk datang kepada mereka yang hidupnya masih hambar atau dalam kegelapan. Nah, seperti apakah kita? Apakah kita selalu ingat dengan jati diri kita ini? Atau kita justru sering lupa sehingga cara hidup kita sehari-hari tidak ada bedanya dengan orang dunia. Atau mungkinkah kita dengan sengaja tidak mau hidup sebagai garam dan terang ini? Kita diam saat terjadi penyimpangan di lingkungan kita, atau saat melihat orang lain mengalami kehampaan di dalam hidupnya. Kita kompromi dengan dosa karena takut dimusuhi. Jika itu yang terjadi, perhatikan peringatan Yesus ini. Garam yang tak asin akan dibuang, terang yang ditutupi adalah sia-sia. Jangan sampai hidup kita didapati Tuhan tawar dan sia-sia. Garami dan terangi sekitar kita! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, sadarkanlah aku bahwa sebagai anak-Mu hidupku harus menjadi terang dan garam bagi orang -orang di sekitarku. Mampukan aku Tuhan sehingga melalui kehadiranku banyak orang kubawa untuk semakin mengenal-Mu. Amin. (Dod).
Oct 2
6 min
Edisi Hari Jumat, 2 Oktober 2026 - Orang tua yang selalu hadir untuk anak
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 2 Oktober 2026Bacaan: "Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7)Renungan: Jika ada satu profesi yang paling jarang mendapat komentar miring, saya rasa pemadam kebakaran adalah salah satunya. Berbeda dengan polisi yang berpatroli atau dokter yang tak pernah kehabisan pasien, pemadam kebakaran memang hanya muncul saat terjadi kebakaran. Kebakaran tentu bukan peristiwa yang sering terjadi. Namun jika terjadi, dampaknya amat menghancurkan dan menakutkan. Tak heran, pemadam kebakaran benar-benar tampak seperti pahlawan. Apalagi belakangan petugas pemadam tak lagi khusus menangani kebakaran. Dari membersihkan sarang lebah, menangkap ular, sampai urusan tangan terjepit, banyak orang kini meminta tolong petugas pemadam yang dengan senang hati menolong. Pemadam kebakaran memang profesi mulia dan banyak menolong. Tapi, keberadaannya tidak selalu kita rasakan. Hanya ketika kita butuh bantuan, baru mereka datang. Dalam hal menjadi orang tua, kita tidak boleh bersikap seperti pemadam kebakaran. Kita hanya muncul di kehidupan anak saat mereka butuh bantuan atau dalam masalah. Atau malah sebaliknya, kita hanya muncul ketika anak meraih prestasi saja. Saat masalah terjadi, kita berikan teguran dan hukuman. Dan saat prestasi diraih, kita berikan hadiah kepada anak. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa membangun sebuah kedekatan dan relasi yang hangat serta saling percaya, jika interaksi kita hanya terjadi di dua jenis peristiwa saja? Anak membutuhkan orang tuanya bukan hanya saat mereka mengalami masalah. Maka, jangan setelah anak terlibat kasus, baru kita panik, marah, atau ingin memahami anak. Setelah anak jatuh sakit, baru kita memberi perhatian. Nyatanya, kadang itu sudah cukup terlambat. Bacaan hari ini memang biasanya ditujukan untuk mengingatkan pentingnya mengajarkan firman Tuhan kepada anak. Tapi, perhatikan juga kapan itu dilakukan; saat duduk, dalam perjalanan, berbaring atau bangun. Bisa dilihat, Alkitab mengajar bahwa mendidik dan membimbing anak itu harus dilakukan di segala situasi. Ya, jangan jadi orang tua tipe pemadam kebakaran. Jadilah orang tua yang selalu hadir, yang selalu membuka diri untuk anak, dan memberikan teladan serta pengajaran yang benar. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, penuhilah kami sebagai orang tua kuasa penuh untuk mendidik anak-anak kami, agar kelak mereka dapat bertumbuh menjadi pribadi yang membanggakan Engkau. Amin. (Dod).
Oct 1
4 min
Edisi Hari Kamis, 1 Oktober 2026 - Tetap tenang dan rasakan kehadiranNya
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 1 Oktober 2026Bacaan: "Sikap yang tenang memanjangkan umur; iri hati memendekkannya." (Amsal 14:30)Renungan: Kesehatan tubuh kita memang sangat berkaitan dengan suasana hati kita. Ini bukan karena faktor makanan atau gaya hidup yang tidak sehat saja, melainkan lebih dari itu, yaitu tidak menjaga hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dan kondisi emosional yang tidak seimbang dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik seseorang. Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan yang kompleks antara pikiran, emosi, dan tubuh manusia. Ketika seseorang mengalami stres atau ketidakseimbangan emosional, sistem kekebalan tubuhnya dapat terpengaruh, meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit. Hati yang tenang merupakan kondisi ketika ia tenang, damai, dan tenteram. Amsal 4:23 menyatakan "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan". Hati yang tenang dapat diartikan sebagai hati yang kudus, bebas dari dosa seperti kepahitan, dendam, iri hati, kesombongan. Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati karena hati yang bersih membawa ketenangan. Orang benar merasakan damai sejahtera, ketenangan, dan ketenteraman abadi karena "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes. 32:17). Karena itu, menjaga hati agar tetap bersih dan penuh dengan kebenaran adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin. Mari kita berusaha hidup benar sehingga hidup kita menjadi tenang dan tentram. Biarlah kita selalu menjaga hati kita agar tetap tenang dan serahkanlah segala kekhawatiran kita kepada Tuhan karena Tuhan yang lebih mengetahui segala isi hati kita. Sementara itu, kita juga berjalan di dalam kebenaran firman-Nya. Itulah yang akan menyegarkan tubuh, jiwa, dan hati kita. Hanya dekat Tuhan saja hati kita akan tenang karena hati yang tenang akan memperoleh kesegaran jiwa dan raga. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah ketenangan dalam hatiku, agar aku dapat merasakan kehadiran-Mu yang dapat memberiku kekuatan baru. Amin. (Dod).
Sep 30
4 min
Edisi Hari Rabu, 30 September 2026 - Selalu hidup dalam Firman Tuhan
Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 30 September 2026Bacaan: "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." (Mazmur 119:9)Renungan: Seorang pelayan Tuhan bercerita tentang kejatuhannya dengan seorang wanita dan kemudian menyadari kesalahannya dan memohonkan pengampunan Tuhan.Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu, dan sampai saat ini, rumah tangganya masih terpecah karena sang istri tidak dapat mengampuninya. Lalu temannya bertanya, "Berapa lama Anda telah menjalin hubungan dengan wanita tersebut?" Ia menjawab, "Empat bulan." Temannya terperanjat dengan situasi ini, dan sebuah pemahaman ilahi tebersit dalam hati tentang konsekuensi dosa di mana dosa yang hanya berusia empat bulan memberikan dampak yang menghancurkan dalam bilangan tahun. Kenikmatan dosa yang sementara memberikan kesusahan hidup yang panjang. Mzm 107:17 berkata, "Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka." Hal ini tentunya membuka cakrawala pikiran kita bahwa terlalu mahal harga yang harus kita bayar untuk sebuah dosa. Terlalu berisiko tinggi untuk setiap kenikmatan dosa yang kita jalani. Sebagai contoh, manusia lebih memilih hidup dalam kenikmatan dosa dalam jumlah bilangan 70-80 tahun masa hidup manusia, namun tidak menyadari bahwa akibat dari dosa yang akan membawanya pada kematian yang tidak lagi dapat diukur dengan jumlah bilangan tahun. Dosa yang membawa kepada kematian kekal. Dengan demikian, apa pun bentuk dosa yang ada tidak akan pernah seimbang dengan akibat yang akan kita terima. Jika demikian, mengapa kita masih bermain-main dengan dosa? Di sinilah kita belajar nilai konsekuensi sebuah dosa yang mendamparkan kita pada sebuah harga yang mahal, yang seharusnya tidak perlu kita bayar. Daud pun pernah mengalami hal yang sama. Ia mengalami duka kematian anaknya dari hasil perzinaannya dengan Batsyeba. Adam dan Hawa terusir dari kenyamanan dan keindahan Taman Eden hanya karena satu gigitan buah yang dilarang Tuhan. Besar maupun kecil dosa tetaplah dosa yang akan memberikan konsekuensi yang harus dibayar. Ingatlah kalimat bijak yang sering kita dengar, "Manisnya dosa akan berakhir dengan kepahitan." Hal ini membuat kita mengerti bahwa kita mudah jatuh ke dalam sebuah pesona dosa sehingga kita melalaikan konsekuensinya. Mari kita tertanam dalam kebenaran ini agar kita menjaga setiap langkah kehidupan kita, dan hidup dalam terang firman Tuhan, agar kita tidak mudah tertipu dalam berbagai bentuk pesona dosa. Daud berkata, "Dalam hatiku aku menyimpan janji Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau." Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku ingin selalu hidup dalam firman-Mu sehingga aku tidak mudah tergoda oleh pesona dosa yang akan menjatuhkanku. Amin. (Dod).
Sep 29
6 min
Edisi Hari Selasa, 29 September 2026 - Tubuh sebagai bait Allah, Harus dirawat dan dipelihara dengan baik
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 29 September 2026Bacaan: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1 Korintus 6:19) Renungan: Sangat penting bagi kita semua untuk menjaga kesehatan tubuh kita secara keseluruhan. Jangan biarkan gaya hidup yang tidak beraturan terus-menerus kita jalankan sehingga membuat tubuh kita menjadi lemah dan terserang berbagai macam penyakit. Jantung koroner adalah salah satu penyakit yang berbahaya, namun selain penyakit ini, masih ada begitu banyak jenis penyakit lain yang juga mematikan seperti diabetes, stroke, kanker, paru-paru, dlsb. Cobalah untuk memulai gaya hidup yang sehat. Berolahraga secara teratur dan tidak berlebihan, memakan buah-buahan dan sayuran, tidak melakukan kegiatan yang membahayakan kesehatan, seperti merokok, mabuk-mabukan, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, dlsb. Rawatlah kesehatan tubuh! Tuhan mengingatkan kita di dalam Alkitab bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, oleh karena itu kita harus memuliakan Dia dengan tubuh kita. Bayangkanlah kita berada di dalam sebuah gereja. Tentu kita wajib untuk menjaga kebersihan gereja tersebut, bukan? Kita tidak akan mengotorinya apalagi merusaknya, karena kita beribadah di dalam gereja tersebut. Tentu kita ingin suasana yang nyaman ada di dalamnya. Apalagi mengingat bahwa di gereja tersebut kita berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa dan penyembahan. Gereja adalah rumah Tuhan dan rumah kita bersama! Hal ini sama dengan tubuh kita. Tuhan menganggap tubuh kita sebagai bait Roh Kudus, yang artinya sudah menjadi kewajiban kita untuk merawat dan melestarikannya, bukannya mengotori apalagi merusaknya. Tubuh kita juga adalah tempat kediaman Tuhan. Dia tinggal di dalam hati kita. Karena itu jangan pernah berpikir bahwa kita bebas berbuat semau kita terhadap tubuh sendiri, karena hal itu adalah keegoisan dan kesombongan. Ingatlah bahwa kita telah dibeli dan telah lunas dibayar dengan darah Kristus. Karena itu kita wajib menjaga kesehatan kita dan memuliakan Dia dengan tubuh kita! Tubuh yang sehat pasti akan dapat kita pakai terus untuk melayani Tuhan dalam berbagai bidang. Jika kita sakit, maka kita tidak dapat lagi melayani Tuhan dalam hal apa pun. Mari mulai gaya hidup yang sehat, dan terus melayani serta memuliakan Tuhan dengan tubuh kita! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku jika selama ini aku sembarangan dalam menjaga tubuhku. Ajarilah aku untuk dapat merawat kesehatan tubuhku yang adalah bait-Mu sendiri. Amin. (Dod).
Sep 28
5 min
Edisi Hari Senin, 28 September 2026 - Selalu terkoneksi denganNya
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 28 September 2026Bacaan: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20)Renungan: Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang akan menjemput ibunya yang akan datang ke Jakarta. "Pagi itu Leny dari Jakarta menelepon ibunya yang berada di Kupang, yang akan datang ke Jakarta. Ia mengingatkan agar handphone ibunya langsung diaktifkan saat transit di Denpasar. Saat jadwal yang ditetapkan bahwa pesawat mendarat di tempat transit, Leny segera menghubungi ibunya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja, sebab saat itu ibunya sedang mengidap penyakit dalam, yaitu maag kronis. Namun sayang handphonenya tidak bisa dihubungi. Apalagi saat menghubungi pihak bandara, mereka mengatakan bahwa ibunya tidak berada di ruang tunggu bandara Denpasar. Seluruh keluarga menjadi panik, takut terjadi sesuatu pada sang ibu. Dengan pasrah Leny hanya dapat menunggu pesawat yang akan membawa ibunya ke Jakarta sambil terus berdoa. Dengan perasaan tidak keruan ia memerhatikan barisan penumpang di pintu keluar. Betapa senangnya saat ia melihat ibunya ada di antara para penumpang itu. "Kenapa Mama tidak mengaktifkan HP? Saya hubungi Mama dari siang tadi tetapi tidak bisa," kata Leny dengan penasaran sambil memeriksa HP ibunya. "Mama dari tadi juga tunggu telepon kamu, Nak. Tetapi karena HP-nya tidak berdering, makanya tidak Mama cek," jawab ibunya dengan santai. "Ya jelas HP-nya tidak bisa berbunyi, kan belum diaktifkan Ma," jawab Leny dengan sedikit kesal. Ibunya ternyata sudah sedikit pikun di usia 71 tahun ini dan hal itu belum disadari oleh Leny. Komunikasi antara Leny dan ibunya terputus karena sang ibu tidak menyalakan handphone." Kisah ini mengingatkan pada hubungan kita dengan Tuhan. Kita mendengar orang lain berbicara dan menyaksikan bagaimana Tuhan hadir di dalam hidup mereka dan berbicara. Kemudian kita sendiri mulai bingung karena tidak merasakan kehadiran-Nya, apalagi mendengarkan suara-Nya. Apa yang menjadi masalahnya? Apakah Tuhan tidak mau berbicara kepada kita? Setelah itu, kita mulai meragukan kehadiran Tuhan di dalam hidup ini, padahal kita sendiri yang tanpa sadar telah memutus koneksi dengan Tuhan. Tuhan senantiasa datang menghampiri umat-Nya, namun terkadang kita tidak menyadarinya. Sebenarnya kita sendiri yang salah, sebab kita tidak membuka koneksi dengan Tuhan sehingga kita tidak dapat merasakan atau mengetahui kehadiran-Nya di sisi kita. Koneksi itu akan kembali terhubung ketika kita memberikan waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Hubungan komunikasi kita dengan Tuhan harus selalu tersambung dan tidak boleh terputus. Jangan meremehkan masalah ini! Hal ini sangat penting bagi kita supaya selalu terkoneksi dengan Tuhan untuk mengetahui tujuan-tujuan dan apa yang harus kita lakukan sehingga tidak terjadi kesalahan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku mau supaya koneksi antara aku dan Engkau selalu aktif dan tidak pernah putus. Aku memohon kiranya Roh-Mu memampukanku. Amin. (Dod).
Sep 27
7 min
Edisi Hari Minggu, 27 September 2026 - Berserah dan Terus berharap padaMu
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 27 September 2026Bacaan: "Dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan." (Roma 5:4) Renungan: Sebuah film Bollywood bercerita tentang tiga orang mahasiswa yang menjalin persahabatan, senantiasa berusaha hadir dan saling membantu serta memotivasi di dalam setiap suka dan duka yang mereka alami. Sebuah ungkapan yang selalu menjadi andalan bagi mereka jika di antara mereka berada di dalam kesulitan hidup ialah all is well. Ungkapan tersebut memang sederhana, namun sangat berpengaruh di dalam hidup mereka masing-masing. All is well berarti semuanya baik-baik saja. Hal tersebut memang bisa dikatakan sebagai bentuk sugesti yang positif bagi mereka di dalam menghadapi persoalan atau tantangan. Tidak jarang ketika mereka masing-masing mengalami persoalan, ungkapan tersebut mendorong mereka untuk bertahan, bahkan membuat mereka menjadi lebih tenang sehingga bisa mengambil tindakan yang benar. Perasaan khawatir, kehilangan, gagal, kecewa, putus asa, dan sebagainya, adalah hal-hal yang sering kali dihadapi oleh setiap orang dalam kehidupannya. Bahkan tidak jarang juga orang itu akan menarik diri dari lingkungannya, bisa saja karena merasa malu, kecewa, takut dengan lingkungannya. Sehingga, dari situ juga dapat mengakibatkan putus harapan bagi orang tersebut. Beratnya persoalan yang dihadapi oleh seseorang akan sangat berpengaruh terhadap psikologis atau kejiwaan orang itu. Tidak jarang orang tersebut akan merasa menemukan jalan buntu di dalam permasalahannya. Pikiran dan perkataan kita dalam menghadapi setiap persoalan sangat berpengaruh bagi diri kita. Hal tersebut akan memengaruhi bagaimana sikap kita di dalam menghadapi permasalahan tersebut. "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Ams 24:10). Di sini jelas dikatakan bahwa ketika kita tawar hati atau patah semangat dan terus terpuruk oleh keadaan tersebut, maka kita tidak akan mendapat kekuatan dan pengharapan. Mzm 37: 3-5 menjelaskan beberapa hal penting yang dapat menjadi pegangan di dalam menghadapi setiap persoalan yang ada. Kunci utamanya adalah "percaya kepada Tuhan", kemudian "diam", berarti tetap tenang dan bertahan di dalam setiap tantangan. Selanjutnya "setia" yang berarti taat di dalam melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Dan, "bergembira karena Tuhan", berarti tetap bersukacita walau bagaimanapun kondisi kita dalam menghadapi tantangan yang ada. Sukacita yang kita miliki akan menunjukkan bahwa kita tetap memiliki kepercayaan dan pengharapan di dalam Tuhan. Pengharapan yang kita miliki di dalam Tuhan akan kita terima melalui sebuah pertahanan diri kita di tengah masalah yang sedang menyerang kita. Percaya, tenang atau bertahan, taat, serta tetap bersukacita merupakan bentuk penyerahan diri kita secara total di dalam Tuhan. Kita akan melihat Tuhan bertindak di saat kita menyerahkan keberadaan kita sepenuhnya kepadaNya. Semua akan baik-baik saja karena Tuhan mampu memberikan yang terbaik bagi kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, mampukan aku untuk bertahan di dalam menghadapi setiap tantangan dan masalah yang ada, dan ajarilah aku untuk terus berharap kepada-Mu. Amin. (Dod).
Sep 26
7 min
Edisi Hari Sabtu, 26 September 2026 - Jaga Sikap, hindari menyakiti sesama, hadirkan damai
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 26 September 2026Bacaan: "Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: "Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh." (Kejadian 27:41)Renungan: Di dalam Alkitab kita bisa membaca sebuah kisah menarik tentang dua orang bersaudara, yaitu kisah Yakub dan Esau. Kisah Yakub dan Esau ini sebenarnya menunjukkan keadaan keluarga Ishak yang tidak begitu harmonis. Awal persoalannya adalah pilih kasih, yaitu Ishak lebih mengasihi Esau dan Ribka lebih mengasihi Yakub. Masalahnya menjadi lebih parah karena Ribka membuat kesalahan yang besar, yaitu membantu Yakub untuk mengambil berkat kesulungan Esau. Namun, sekaligus di sini juga menunjukkan kesalahan Yakub, sebab Yakub mengikuti petunjuk Ribka yang salah. Kita bisa melihat dampak negatif dalam kehidupan keluarga itu karena tindakan ceroboh tersebut.Dampak bagi Esau. Esau menjadi dendam kepada Yakub. Begitu sakit hatinya Esau sehingga dengan adiknya sendiri dia bisa sangat benci, bahkan lebih dari itu, ada rencana untuk membunuh adiknya.Dampak bagi Yakub. Yakub harus hidup dalam pelarian. Kej 27:43 menjelaskan tentang perkataan Ribka, di mana Ribka menyuruh Yakub lari kepada Laban, saudara Ribka di Haran. Kata "lari" menunjukkan tindakan yang harus segera dilakukan, tidak boleh ditunda-tunda lagi. Memang tempat tujuan sudah jelas, yaitu Haran, tetapi bukan berarti tempat yang nyaman bagi Yakub, sebab pada kenyataannya Yakub harus menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari Laban. Kita bisa melihat pelajaran penting dalam kisah Yakub dan Esau ini, yaitu: Pertama, kita harus senantiasa bertindak dengan hati-hati. Jangan ceroboh dan asal menerima saja saran orang lain. Sekalipun ada saran dari orang-orang yang dekat dengan kita, bahkan mungkin dari keluarga kita, namun jika saran tersebut untuk melakukan sesuatu yang tidak benar, kita harus menolaknya.Ingat, kita tidak boleh kompromi dengan ketidakbenaran. Sebab, hal itu pasti akan berakibat buruk bagi kita dan bagi orang lain yang bersangkut-paut dengan tindakan kita. Kedua, kita tidak boleh dendam. Betapa sakitnya hati kita atas perlakuan orang lain, kita tetap tidak boleh dendam. Sebab, tanpa kita sadari, dendam akan merugikan diri kita sendiri, sebab dendam akan menghilangkan kebahagiaan kita. Serahkan pembalasan kepada Tuhan! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, mampukan aku untuk menjaga tindakanku sehingga tidak menimbulkan sakit hati sesamaku dan jauhkan aku dari dendam atas tindakan orang lain. Amin. (Dod).
Sep 25
5 min
Edisi Hari Jumat, 25 September 2026 - Tetap berupaya berbuat kebaikan
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 25 September 2026Bacaan: "Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang." (1 Tesalonika 5:15) Renungan: Ada pepatah Amerika yang berkata, "Orang menangkap lebih banyak lalat dengan madu daripada dengan cuka." Artinya, adalah sangat bijak jika kita menyelesaikan konflik dengan cara menabur kasih dan perbuatan-perbuatan yang baik. Respons berupa emosi yang meledak-ledak ketika kita merasa disakiti atau dirugikan orang lain, seharusnya tidak kita lakukan karena akan menghancurkan tali persaudaraan. Seorang petani merasa terganggu oleh tetangganya yang adalah seorang pemburu. Pemburu itu memiliki beberapa anjing galak, yang sering melompati pagar dan memangsa domba-domba petani tersebut. Petani itu sudah sering meminta tetangganya untuk mengendalikan anjing-anjingnya, tapi tidak juga ada tindakan yang nyata dari pihak si pemburu. Tiap kali anjing-anjing itu melompati pagar yang memisahkan rumah si petani dan si pemburu, beberapa ekor domba pasti terluka parah. Karena kesabaran si petani sudah sampai di ambang batas, ia pergi ke kota untuk menemui seorang hakim dan menceritakan duduk perkaranya dengan si pemburu. "Pak, saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan agar anjingnya dirantai atau dikurung. Kalau saya melakukan itu, Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang ingin Anda miliki, tetangga yang menjadi teman atau musuh?" tanya si hakim dengan bijak. Karena si petani lebih memilih untuk menambah satu orang teman lagi dalam hidupnya, maka si hakim menawarkan sebuah solusi, "Baiklah, saya akan memberikan sebuah jalan keluar yang baik bagi Anda, sehingga domba-domba Anda aman, dan tetangga Anda itu dapat menjadi sahabat yang sejati." Setelah mendengar penjelasan, si petani pun pulang. Sesampai di rumah, si petani menjalankan saran dari hakim tersebut. Dia mengambil tiga ekor domba dan memberikannya kepada ketiga orang putra tetangganya yang masih kecil. Ketiga bocah itu sangat senang dan selalu bermain dengan domba-domba pemberian si petani. Melihat kegembiraan putra-putranya, si pemburu pun membangun sebuah kandang yang tinggi bagi anjing-anjingnya sehingga domba-domba milik putranya aman. Sejak saat itu anjing-anjing si pemburu tidak pernah lagi mengganggu domba si petani. Efek lain dari sikap baik si petani adalah jembatan persahabatan yang lebih dulu dibangun si petani membuat si pemburu suka berbagi hasil buruan kepadanya. Di lain kesempatan si petani membalasnya dengan mengirimkan daging domba atau keju kepada keluarga si pemburu. Dalam waktu yang relatif singkat mereka menjadi tetangga yang bersahabat. Tidak masalah di mana ia ditabur, kasih dan penerimaan selalu membawa dampak yang positif. Kita seharusnya mengembangkan sikap yang luhur, saling menghormati, dan penuh kasih ketika menjalani hidup dengan sesama, supaya kita dapat menikmati indahnya sebuah kerukunan. Rukun itu sebuah berkat! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, mampukan aku untuk membina kerukunan kepada semua orang, dengan demikian aku bisa menjadi garam dan terang dunia. Amin. (Dod).
Sep 24
6 min
Load more