Show notes
Topik bahasan soal seks masih sering dianggap tabu. Seks jadi semacam hal senyap yang musti dirahasiakan dari hadapan publik. Setiap orang punya pengalaman dan pengetahuan tentang seks. Minimal yang berkaitan dengan tubuhnya sendiri. Tapi, sangat sedikit yang berani bicara gamblang, berbagi cerita, hingga mendiskusikan topik bahasan ini. Padahal, keengganan membawa seks jadi obrolan terbuka bukan tanpa akibat hlo. Anak-anak yang tak cukup pengetahuannya soal seks mudah terjerembab pada hal-hal celaka macam hamil tanpa sengaja karena berhubungan seks, seks bebas yang tak sehat, dan masih banyak lagi. Beberapa mahasiswi ISI Solo yang berdaya lewat kolektif Larasati menghadirkan buruknya pengetahuan seks di masyarakat sekitar jadi sebuah film. Judulnya, Telur Setengah Matang. Yang menarik dari film ini tak terbatas pada apa yang dinyatakan dalam film. Lebih jauh lagi, justru apa-apa yang melingkupi proses produksi hingga pemutarannya di sekian kota. Seorang bapak penonton yang saat itu jadi kru panggung di sebuah acara putar film ini sempat berbagi kesan usai menyimak film Telur Setengah Matang. Ia ingat anak perempuannya di rumah. Anak perempuan yang selama ini tidak pernah diajak membicarakan hal-hal berkaitan dengan seks. Dari matanya, tampak kegusaran dan kekhawatiran sebagai orang tua karena abai menyajikan pembicaraan seks serenyah rempeyek teri di meja makan keluarga. Yuk, simak cerita lengkap sutradara film Telur Setengah Matang, Reni Apriliana yang keren ini!



