Show notes
Jamak diketahui, karya street art memang tak pernah berumur panjang. Sebab, aturan mainnya jika tidak dihapus pemilik lahan akan ditimpa gambar lain oleh seniman urban lainnya. Namun, berbeda ceritanya bila aparat Wakanda yang turun tangan, jelas mengindikasikan adanya kerangkeng kebebasan.Baru-baru ini muncul penghapusan mural bergambar mirip seorang kepala negara, hanya matanya ditutupi dengan tulisan "404: Not Found". Hingga polisi harus turun gelanggang mengejar pelaku seni jalanan itu. Sungguh aneh. Jika ditilik, seberapa banyak orang yang tau arti "404: Not Found"? Jangan-jangan polisi pun tidak mampu menerjemahkan arti "404: Not Found" tersebut. Lantas, di mana unsur penghinaannya terhadap orang yang konon mirip pemimpin di Wakanda? Begitu pula lukisan dinding bertulisan "Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan" dan ekspresi seni tanpa gambar berjudul "Tuhan Aku Lapar". Padahal ini hanya sebuah kalimat pernyataan sejenis doa kepada Tuhan. Tak ubahnya dengan doa serupa "Tuhan Tolonglah Hamba". Mural merupakan karya seni yang memiliki sisi gambar dan pesan yang sedap dipandang. Pun dengan penikmat mural, mereka mempunyai wawasan lebih ketimbang pembaca grafiti. Supir angkot, pengemis, pemulung, barangkali tak paham kenapa wajah yang mirip orang nomer satu di Wakanda itu ditutupi tulisan "404: Not Found". Bisa saja mereka berpikir bahwa angka 404 itu dianggap kode judi togel. Banyak orang yang tidak paham bahwa 404 itu berasal dari dunia canggih dan berkaitan dengan pencarian di ruang virtual yang berakhir error.Malang nian nasib mural kini. Karya seni media dinding itu tiba-tiba dikaitkan dengan urusan politik hingga dinilai sarat dengan kritik. Kalau dipikir-pikir, memangnya seni lukis mana yang bebas dari kritik? Lebih aneh lagi tak ada kesepakatan apakah mural beraroma kritik itu harus diberangus atau tidak. Sementara, pihak berwajib sendiri terbelah dalam bersikap. Polisi daerah gerak cepat menghapus mural tersebut sementara polisi di markas besar justru meminta agar tidak reaktif menyikapi soal mural. Belum lagi nada sumbang salah seorang pejabat tinggi yang menyebutkan mural merupakan kritik yang tidak beradab. Sungguh aneh bin mengherankan, bagaimanakah kriteria kritik yang tidak beradab itu? Sementara pemimpin Wakanda berulang kali menyebut dirinya bukan orang antikritik. Bahkan, kerap diulangi dalam pidato kenegaraan di depan sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Wakanda pada seremonial kemerdekaan. Maka kasus mural ini amatlah jelas bahwa presiden tak ingin polisi bersikap reaktif dalam merespon segala kritik, namun kenyataan di lapangan tak seindah teks pidato di Senayan. Inkonsistensi inilah yang melahirkan tanda tanya. Jika ditarik simpul, ketidakkonsistenan ini pun tak luput dari teladan pemimpin Wakanda sendiri. Sebagai contoh, mbuletisasi yang tak kunjung tuntas ialah soal TWK yang menelan korban pegawai dan penyidik terbaik. Kala itu, presiden meminta agar tes tersebut tidak dijadikan penyebab gugurnya status kepegawaian. Tapi, sekelas pimpinan KPK berani membangkang bahkan rekomendasi Komnas HAM dan Ombudsman hanya masuk kuping kanan membal kemudian. Sampai disini presiden tetap bungkam.Pembangkangan yang dibiarkan ini tentu bakal merembet ke instansi lain. Maka jangan heran bila petinggi kepolisian memerintahkan bawahannya untuk tidak reaktif terhadap keberadaan mural yang dianggap penuh kritik malah dicuekin oleh polisi daerah. Kasus pemberangusan mural ini sekaligus cermin bahwa demokrasi memang sudah di tubir jurang. Pada saat suara rakyat tak mampu disalurkan wakilnya yang ada di parlemen, suara rakyat di dinding-dinding bangunan tepi jalan pun juga error not found, tak ditemukan lagi bekasnya. Hal ini begitu memprihatinkan.Sejatinya, mural adalah media mengantarkan pesan moral yang mengajak orang untuk berpikir dan bertindak. Ini pula yang membedakan antara mural seni jalanan dengan aksi-aksi vandalisme.



