Pada akhir tahun tujuh puluhan, pemerintah Indonesia berencana membawa negara ini ke tingkat teknologi yang lebih tinggi dengan mendirikan industri teknologi maju. Pengembangan industri kedirgantaraan adalah salah satu rencana untuk menguasai teknologi maju tersebut. Untuk mendukung industri kedirgantaraan, maka dibangun terowongan angin dengan panjang 4m dan lebar 3m pada bagian seksi uji dengan kecepatan angin maksimum 400 km per jam (kurang lebih 110 m/s) pada seksi uji kosong yang kemudian diberi nama ILST (Indonesian Low Speed tunnel). Di bagian seksi uji, model pesawat berskala tertentu diuji untuk menganalisis kinerja aerodinamika, karakteristik stabilitas, aeroelastisitas dll dari desain suatu pesawat. Menteri Riset dan Teknologi saat itu, Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie mengirimkan Prof. Ir. O. Diran dan tim ke luar negeri pada tahun 1979 untuk menjajaki kemungkinan menciptakan sebuah fasilitas di Indonesia. Tiang pancang pertama untuk membangun ILST dibangun pada tanggal 18 Desember 1984 dan setelah 25 bulan periode konstruksi , ILST diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, H.M. Soeharto, pada 11 Desember 1989. Ketika industri pesawat terbang Indonesia (PT. IPTN, sekarang dikenal sebagai PT. DI) mulai mengembangkan N250, ILST siap mendukung pengujian terowongan angin, termasuk pressure and force measurement, pengukuran simulasi mesin menyala (Power on), visualisasi aliran menggunakan 2D, model sebagian dan model penuh. Pada masa itu LAGG dipimpin oleh Dr. Ir Anton Adibroto. Bagaimana proses pembangunan fasilitas dan sdm di ILST dan bagaimana ILST dapat berperan untuk menghasilkan produk dirgantara yang baik, saksikan dalam diskusi santai pada aero talk kali ini.
Special guest : Prof. Dr. Ir Anton Adibroto
Host : Andika



